RIT - "Mengapa harus Berubah? Pertanyaan itu yang sering ditanyakan kepada para pengemban misi perubahan. Pertanyaan “Why” memang agak sulit dijelaskan namun
kita coba menjawabnya.
Mengapa kita –pemuda- harus melakukan perubahan? Karena memang tugas kita sebagai pemuda, bukan hanya belajar, kawan. Bukan hanya mencari kerja, cari duit, materi dan sebagainya. Seharusnya kita sadar, bahwa dunia ini sementara dan merupakan godaan terbesar buat manusia.
Sementara di sisi lain, di hadapan mata kita, para pemuda metropolitan bahkan kampungan sudah terjebak dalam lingkaran setan liberalisme. Free sex, narkoba, tawuran dan sederet kriminalitas lainnya mewarnai aktivitas pemuda masa kini. Mereka lebih senang nongkrong, pacaran, nonton bioskop dan minum-minuman keras ketimbang harus ke masjid, baca qur’an atau mengikuti kajian-kajian keislaman.
Di sekolah, pemandangan mengerikan ketika dua muda-mudi bermesraan. Mereka yang seharusnya mencari ilmu, malah terjerumus ke dalam kubangan maksiat yang tak berujung. Maka tak heran, ketika ujian tiba, aksi contek-mencontek menjadi hal biasa di kalangan para pemuda. Dan sangat wajar bila dari 100 pelajar yang lulus SMA sederajat, hanya 11 orang yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. (APTISI, 2010).
Di kampus pun sama, kawan. Mahasiswa yang dikenal sebagai masyarakat ilmiah justru memperlihatkan ke-apatisan mereka dalam melihat masalah bangsa. Diskusi-diskusi ilmiah menurun drastis. Yang ada hanya mahasiswa pragmatis yaitu mahasiswa yang hanya muncul ketika di’suap’ oleh pihak-pihak tertentu. Pendidikan yang seperti itu menghasilkan SDM yang rendah, bahkan Indonesia menempati peringkat 109 dari 174 negara yang memiliki SDM yang baik.
Di kalangan remaja, aborsi sangat marak. Bahkan puskenkes UI pada tahun 2010 melakukan survey yang menghasilkan fakta bahwa aborsi terjadi 100 kasus/hari. Semua itu akibat dari pergaulan bebas ala barat yang diadopsi para pemuda-pemudi Indonesia. Naudzubillah min dzalik.
Tak hanya itu saja, media Indonesia memberitakan bahwa pada tahun 2012 lalu, dari 100 juta penduduk Indonesia, 50% berada dalam kemiskinan. Padahal tambang emas freeport Papua memproduksi 200 ton emas murni/hari. Semestinya dengan hasil produksi sebanyak itu, tak ada lagi orang miskin di Indonesia, kawan.
Sayangnya, keuntungan dari tambang emas itu berada di tangan asing. Bahkan untuk memaksa perubahan deviden yakni sistem bagi hasil, pemerintah Indonesia tak bisa. Akhirnya rakyatlah yang menderita dan dijajah atas nama pajak.
Tambang Indonesia bukan hanya emas, kawan. Ada nikel, aspal, tembaga. Juga minyak bumi, gas, dan lainnya melimpah ruah. Namun kenyataan pahit harus kita hadapi. Negeri Zamrud Khatulistiwa ini, terjerat hutang yang sangat besar. Total hutang Indonesia hingga September 2012 mencapai Rp. 1.975,62 triliun. (Kementerian Keuangan, 2012). Yang jika dibagi ke 200 juta penduduk Indonesia, maka bayi yang baru lahirpun berhutang Rp. 7-8 juta. Astaghfirullah.
Indonesia kita ini mayoritas muslim. Rakyat dan penguasanya muslim. Namun, ternyata korupsi menjadi budaya yang tak pernah lepas dari negeri ini. Bahkan Indonesia adalah salah satu negara terkorup no. 14 di antara 146 negara di dunia (TI, 2005), pada tahun 2006, ketika KKN serius diberantas, peringkat malah naik menjadi no 5 (TI, 2006). Kemudian, masih banyak kasus-kasus yang belum tuntas. Sebut saja Kasus BLBI Rp. 650 T, Kasus Bank Century Rp. 6,7 T, Rekoveri gempa Padang Rp. 100 M (1/60 Century).
Sementara itu, negeri-negeri kaum muslimin yang lain sedang menderita. Pembantaian Kaum muslim di Palestina, di Suriah, Rohingya, Chechnya, Afrika Tengah, China, dll yang dilakukan oleh kaum kafir hanya membuat para penguasa negeri-negeri muslim terdiam. Tak bisa berbuat apa-apa. Al-Qur’an dibakar, Nabi Muhammad dilecehkan, bahkan kaum muslimah di eropa dilarang berkerudung. Masya Allah.
Melihat semua fakta yang ada. Maka kita harus berubah, kawan. Time for change. Waktunya untuk melakukan perubahan mendasar. Bukan perubahan parsial namun perubahan dengan cara yang berbeda. Karena hanya orang gila yang berharap hasil berbeda dengan cara yang sama. Kita harus merubah diri kita. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu merubah apa-apa yang ada pada dirinya” (Ar-Ra’d:11)
Dan masa muda ialah saat yang tepat untuk melakukan perubahan. Pemuda memang harus melakukan perubahan. Segala potensi yang dimiliki pemuda memang layak untuk itu. Dan Perubahan yang kita inginkan ialah perubahan yang revolusioner dan menyeluruh menyangkut semua sistem kehidupan. Yakni penerapan Islam secara kaffah.
Mengapa harus Islam? Karena Islam-lah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang berasal dari Allah SWT, sang pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Tentu sistem ini merupakan alternatif terbaik setelah Komunisme runtuh dan Kapitalisme yang kini sedang sekarat.
Memilih Islam -pun bukan hanya karena itu, kawan. Pemuda Islam harus yakin bahwa Islam ialah rahmat bagi seluruh alam dan penerapan Islam merupakan konsekwensi logis dari keyakinannya tersebut. Yakni keyakinan yang lahir dari proses berfikir yang benar alias berasal dari aqidah aqliyah.
Untuk itu wahai pemuda, Change Your World. Ubahlah duniamu, kawan. Pimpinlah perubahan ini. Perubahan dari Jahiliyah modern (Demokrasi-red) menuju kebangkitan Islam dalam naungan sistem Ilahiyah; Khilafah Islamiyah ‘ala minhajin nubuwwah. Siap? Allahu Akbar![]
kita coba menjawabnya.
Mengapa kita –pemuda- harus melakukan perubahan? Karena memang tugas kita sebagai pemuda, bukan hanya belajar, kawan. Bukan hanya mencari kerja, cari duit, materi dan sebagainya. Seharusnya kita sadar, bahwa dunia ini sementara dan merupakan godaan terbesar buat manusia.
Sementara di sisi lain, di hadapan mata kita, para pemuda metropolitan bahkan kampungan sudah terjebak dalam lingkaran setan liberalisme. Free sex, narkoba, tawuran dan sederet kriminalitas lainnya mewarnai aktivitas pemuda masa kini. Mereka lebih senang nongkrong, pacaran, nonton bioskop dan minum-minuman keras ketimbang harus ke masjid, baca qur’an atau mengikuti kajian-kajian keislaman.
Di sekolah, pemandangan mengerikan ketika dua muda-mudi bermesraan. Mereka yang seharusnya mencari ilmu, malah terjerumus ke dalam kubangan maksiat yang tak berujung. Maka tak heran, ketika ujian tiba, aksi contek-mencontek menjadi hal biasa di kalangan para pemuda. Dan sangat wajar bila dari 100 pelajar yang lulus SMA sederajat, hanya 11 orang yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. (APTISI, 2010).
Di kampus pun sama, kawan. Mahasiswa yang dikenal sebagai masyarakat ilmiah justru memperlihatkan ke-apatisan mereka dalam melihat masalah bangsa. Diskusi-diskusi ilmiah menurun drastis. Yang ada hanya mahasiswa pragmatis yaitu mahasiswa yang hanya muncul ketika di’suap’ oleh pihak-pihak tertentu. Pendidikan yang seperti itu menghasilkan SDM yang rendah, bahkan Indonesia menempati peringkat 109 dari 174 negara yang memiliki SDM yang baik.
Di kalangan remaja, aborsi sangat marak. Bahkan puskenkes UI pada tahun 2010 melakukan survey yang menghasilkan fakta bahwa aborsi terjadi 100 kasus/hari. Semua itu akibat dari pergaulan bebas ala barat yang diadopsi para pemuda-pemudi Indonesia. Naudzubillah min dzalik.
Tak hanya itu saja, media Indonesia memberitakan bahwa pada tahun 2012 lalu, dari 100 juta penduduk Indonesia, 50% berada dalam kemiskinan. Padahal tambang emas freeport Papua memproduksi 200 ton emas murni/hari. Semestinya dengan hasil produksi sebanyak itu, tak ada lagi orang miskin di Indonesia, kawan.
Sayangnya, keuntungan dari tambang emas itu berada di tangan asing. Bahkan untuk memaksa perubahan deviden yakni sistem bagi hasil, pemerintah Indonesia tak bisa. Akhirnya rakyatlah yang menderita dan dijajah atas nama pajak.
Tambang Indonesia bukan hanya emas, kawan. Ada nikel, aspal, tembaga. Juga minyak bumi, gas, dan lainnya melimpah ruah. Namun kenyataan pahit harus kita hadapi. Negeri Zamrud Khatulistiwa ini, terjerat hutang yang sangat besar. Total hutang Indonesia hingga September 2012 mencapai Rp. 1.975,62 triliun. (Kementerian Keuangan, 2012). Yang jika dibagi ke 200 juta penduduk Indonesia, maka bayi yang baru lahirpun berhutang Rp. 7-8 juta. Astaghfirullah.
Indonesia kita ini mayoritas muslim. Rakyat dan penguasanya muslim. Namun, ternyata korupsi menjadi budaya yang tak pernah lepas dari negeri ini. Bahkan Indonesia adalah salah satu negara terkorup no. 14 di antara 146 negara di dunia (TI, 2005), pada tahun 2006, ketika KKN serius diberantas, peringkat malah naik menjadi no 5 (TI, 2006). Kemudian, masih banyak kasus-kasus yang belum tuntas. Sebut saja Kasus BLBI Rp. 650 T, Kasus Bank Century Rp. 6,7 T, Rekoveri gempa Padang Rp. 100 M (1/60 Century).
Sementara itu, negeri-negeri kaum muslimin yang lain sedang menderita. Pembantaian Kaum muslim di Palestina, di Suriah, Rohingya, Chechnya, Afrika Tengah, China, dll yang dilakukan oleh kaum kafir hanya membuat para penguasa negeri-negeri muslim terdiam. Tak bisa berbuat apa-apa. Al-Qur’an dibakar, Nabi Muhammad dilecehkan, bahkan kaum muslimah di eropa dilarang berkerudung. Masya Allah.
Melihat semua fakta yang ada. Maka kita harus berubah, kawan. Time for change. Waktunya untuk melakukan perubahan mendasar. Bukan perubahan parsial namun perubahan dengan cara yang berbeda. Karena hanya orang gila yang berharap hasil berbeda dengan cara yang sama. Kita harus merubah diri kita. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu merubah apa-apa yang ada pada dirinya” (Ar-Ra’d:11)
Dan masa muda ialah saat yang tepat untuk melakukan perubahan. Pemuda memang harus melakukan perubahan. Segala potensi yang dimiliki pemuda memang layak untuk itu. Dan Perubahan yang kita inginkan ialah perubahan yang revolusioner dan menyeluruh menyangkut semua sistem kehidupan. Yakni penerapan Islam secara kaffah.
Mengapa harus Islam? Karena Islam-lah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang berasal dari Allah SWT, sang pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Tentu sistem ini merupakan alternatif terbaik setelah Komunisme runtuh dan Kapitalisme yang kini sedang sekarat.
Memilih Islam -pun bukan hanya karena itu, kawan. Pemuda Islam harus yakin bahwa Islam ialah rahmat bagi seluruh alam dan penerapan Islam merupakan konsekwensi logis dari keyakinannya tersebut. Yakni keyakinan yang lahir dari proses berfikir yang benar alias berasal dari aqidah aqliyah.
Untuk itu wahai pemuda, Change Your World. Ubahlah duniamu, kawan. Pimpinlah perubahan ini. Perubahan dari Jahiliyah modern (Demokrasi-red) menuju kebangkitan Islam dalam naungan sistem Ilahiyah; Khilafah Islamiyah ‘ala minhajin nubuwwah. Siap? Allahu Akbar![]
Komentar
Posting Komentar