Langsung ke konten utama

Jihad dan Dakwah di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dimana Allah SWT melipatgandakan pahala bagi amal kebajikan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Perbuatan sunnah diganjar pahala seperti melaksanakan perbuatan wajib di bulan lain. Perbuatan wajib diganjar seperti melaksanakan 70 kali perbuatan wajib tersebut di bulan yang lain. Diriwayatkan dari sahabat Salman Al Farisi r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu perbuatan kebajikan (sunnah) di dalam bulan Romadhan, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan kewajiban (fardlu) di bulan yang lain. Dan siapa saja menunaikan kewajiban di bulan Romadhan, (ia diganjar pahala) sama seperti orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain" (HR. Khuzaimah).
Oleh karena itu sudah semestinya setiap muslim mengkalkulasi agar dapat mengoptimalkan waktunya di bulan Romadhan dengan mengisi hari-harinya dengan berbagai amalan antara yang fardlu dan yang sunnah. Dia sedapat mungkin meminimalkan perbuatan yang mubah dan menjauhkan diri dari yang makruh apalagi yang haram. Na'udzu billah! Bahkan di antara yang sunnah maupun yang wajib dia akan membanyakkan yang wajib. Islam sendiri mengajarkan bahwa di antara amal-amal itu ada tingkatan-tingkatannya. Jelas yang wajib itu jauh lebih baik dari yang sunnah, kita tidak tahu persis berapa. Namun berdasarkan hadits di atas dapat kita perkirakan perbandingan antara perbuatan yang sunnah dengan yang wajib itu kurang lebih satu perbuatan wajib setara dengan sekitar 70 kali yang sunnah. Oleh karena itu, setiap muslim di bulan Romadhan mestinya memperhatikan betul kewajiban mana yang belum ia kerjakan.
Para sahabat dulu konon bila diberi pilihan untuk mengerjakan sepuluh perbuatan yang mubah, mereka mengambil satu saja. Yang sembilan mereka alokasikan untuk perbuatan wajib atau sunnah.

Jihad Puncaknya Islam
Kalau kita perhatikan betapa para sahabat telah bertindak sangat efektif dan efisien, dimana sepanjang hidup mereka diabdikan hanya untuk dakwah, jihad dan futuhat (pembebasan-pembebasan). Sejarah mencatat bahwa berbagai peperangan di masa Rasullah saw. dan para sahabat dalam menjalankan kewajiban jihad fisabilillah banyak dilakukan pada saat bulan Romadlon.
Pada saat mereka sedang shaum atau berpuasa, pada saat panas terik, pada saat lapar dan dahaga, mereka menyabung nyawa, melaksanakan perintah Allah SWT:
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.."(QS. At Taubah 41).
Pada bulan Romadlonlah terjadinya perang Badar Al Kubra yang menjadi the turning point bagi umat Islam. Yang tadinya dikejar-kejar dan diusir dari kampung halamannya ternyata dalam perang itu kaum muslimin berhasil memukul mundur tentara Quraisy. Pembebasan kota Mekkah (fathu Makkah) oleh 10 ribu orang mujahidin yang dipimpin oleh Rosulullah yang mengakhiri peranan politik dan militer kaum jahiliyah juga terjadi pada bulan Ramadhan. Demikian pula penaklukan Andalusia (Spanyol dan Portugis) yang menandai peranan dan peradaban Islam terhadap kebangkitan dan pencerahan (Renaissance) bangsa-bangsa Eropa juga terjadi pada bulan Ramadhan.
Kenapa kaum muslimin di masa lalu mampu melakukan tugas berat itu sekalipun mereka sedang berpuasa ?
Sebenarnya ini tidak mengherankan. Sebab mereka tahu bahwa jihad itu termasuk amalan wajib yang paling top, puncaknya Islam (dzurwatul Islam). Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ditanya, amalan apa yang paling afdol, beliau menjawab: Iman kepada Allah. Lalu ditanya: setelah itu apa? Beliau menjawab jihad fi sabilillah!. Dan afdolnya jihad ini bahkan digambarkan oleh Allah SWT mesti didahulukan oleh seorang muslim dari pada kecintaan kepada orang tua, anak, istri, keluarga, harta, tempat tinggal, bisnis, dan sebagainya. Jihad justru diletakkan setelah kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya (lihat QS. At Taubah 24).
Dan suatu umat yang meninggalkan jihad, sibuk berbisnis, beternak, dan bertani, bakal ditimpa kehinaan hingga mereka kembali ke jalan agama Allah SWT yang memuliakan ibadah jihad fisabilillah (lihat Fauzie Sanqarith, Taqarrub ilallah hal 25).
Di samping itu Allah SWT menjanjikan pahala yang besar berupa surga pada orang yang berjihad dan yang mati syahid dalam jihad fisabilillah. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar (lihat QS. At Taubah 111).
Orang berjihad pilihannya hanyalah mendapatkan satu di antara dua kebaikan, ihdal husnayain, yaitu menang hidup mulia dan berkuasa atau mati syahid masuk surga tanpa hisab. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan" (lihat QS. At Taubah 52).
Tambahan lagi Rasulullah SAW mengabarkan bahwa orang yang berpuasa dalam keadaan jihad fisabilillah pasti dijauhkan dari api neraka sejauh-jauhnya. Diriwayatkan oleh imam Bukhari, Muslim, Turmudzi bahwa Rasulullah bersabda :
"Tidaklah seorang hamba berpuasa dalam satu hari dalam jihad fisabilillah melainkan pada hari itu Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun".
Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda :
Siapa saja yang shaum satu hari didalam jihad fisabilillah niscaya Allah menjauhkan antara dia dan neraka dengan satu parit yang luasnya seluas langit dan bumi" (HR. Thabrani).
Bahkan bagi kaum muslimin yang bertugas di front terdepan menjaga perbatasan negeri Islam dan senantiasa menghadapi ancaman tentara kafir, Allah SWT memberikan penghargaan yang luar biasa yang tak bakal bisa diberikan oleh siapapun. Rasulullah SAW bersabda : "Maukah kukabarkan kepada kalian tentang suatu malam yang lebih utama dari pada lailatul Qodar? Dia adalah malamnya seorang pengawal yang sedang mengawal pasukan kaum muslimin yang sedang istirahat ditanah perkemahan yang menakutkan sehingga dia merasa seolah-olah dia tidak akan kembali kepada keluarganya" (HSR. Al Hakim menurut syarat kriteria Al Bukhari).
Kalau demikian mulianya berjihad di bulan Ramadhan, beruntunglah saudara-saudara kita yang sedang berjibaku di medan tempur di negeri-negeri mereka yang diserang oleh kaum kafirin seperti di Maluku, Philipina, Kasymir, Palestina, Kosova, Dagestan, dan Checnya. Mereka terkena kewajiban berperang membela diri yang hukumnya fardlu 'ain. Allah SWT memerintahkan mereka agar mengusir para agresor tersebut dari bumi kaum muslimin. Dia berfirman:
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian" (QS. Al Baqarah 190-191).
Juga beruntunglah setiap penguasa (bila ada) yang tergerak hatinya, atas dasar iman dan kesungguhan mencari ridla Allah (imanan wah tisaaban) yang mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin dari angkatan bersenjata yang mereka miliki untuk membebaskan kaum muslimin dan negeri-negeri mereka dari cengkeraman kaum kafirin. Sebab sudah menjadi kewajiban penguasa muslim untuk menolong saudara-saudara mereka --sekalipun bukan warga negaranya-- dari keganasan kaum kafirin. Allah SWT berfirman:
"Jika mereka meminta tolong kepadamu atas dasar agama mereka, maka kalian wajib menolongnya" (QS. Al Anfal 72).
Ya, sebagaimana dulu khalifah Al Mu'tashim Billah telah membebaskan daerah Amuria (perbatasan antara Suriah dan Turki) dari penguasa kafir setelah terjadi pelecehan terhadap seorang wanita muslimah oleh pejabat kota tersebut. Khalifah mengirim pasukan yang besar sekali, dimana ujungnya telah sampai di kota Amuria dan pangkalnya di kota Baghdad.
Tentu saja kita rindu penguasa-penguasa muslim yang bertanggung jawab dan perhatian betul terhadap rakyatnya dan identitas keislaman mereka seperti Khalifah Mu'tashim Billah yang begitu peka setelah mendengar jeritan wanita tersebut: Wa Islama wa mu'tashima!, "Dimana Islam dan dimana Khalifah Mu'tashim?". Kita rindu penguasa muslim yang gagah berani yang berani mengumandangkan jihad fi sabilillah dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan membela kaum muslimin yang tertindas. Kita sudah muak dan bosan dengan penguasa yang justru melindungi para penindas serta menghalangi jihad yang hendak membela kaum tertindas!

Prioritas Dakwah dan Ghazwul Fikri
Dan terhadap perang pemikiran dan kebudayaan yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya juga dilakukan oleh kaum kafirin terhadap kaum muslimin di seluruh negeri-negeri Islam dengan melalui berbagai media, kaum muslimin wajib menghadapi mereka dengan perang pemikiran dan kebudayaan pula.
Oleh karena itu, setiap pemikiran kufur seperti demokrasi, HAM, sekularisme, nasionalisme, dan lain-lain harus kita bantah dan kita serang balik serta kita tunjukkan kepada umat dimana letak kepalsuan dan kebatilannya. Dengan demikian, umat akan terbebaskan dari pengaruh dan belenggu dominasi pemikiran dan kebudayaan kufur serta kembali kepada kesucian Islam. Kenapa umat Islam kini sedang didominir dan dikuasai oleh negara-negara Barat seperti AS, Inggris, Perancis, dll. Baik secara ekonomi maupun politik? Jawabnya adalah dikarena kan umat ini telah dicekoki dengan racun pemikiran barat (westoxication).
Selain itu umat harus dikuatkan kembali pemahaman mereka terhadap ide-ide Islam, baik tentang mabda, ideologi atau aqidah yang menghasilkan peraturan, prinsip-prinsip peraturan syari'at Islam, keluasan dan kemenyeluruhan syari'at Islam yang mengatur urusan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara, yang memuat petunjuk sempurna tentang ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pertahanan, maupun keamanan, serta metode penerapan syari'at Islam, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. tatkala mendirikan Daulah Islamiyah di kota Madinah.
Umat kini memerlukan oembinaan iman yang benar-benar jernih dari sumbernya yang jernih. Dengan kemurnian pemikiran Islam yang dimiliki umat, mereka akan memeliki anti bodi yang bisa menangkis serangan dari berbagai pemikiran yang asing dari Islam yang telah dilancarkan oleh pihak
penjajah kapitalis modern baik secara langsung maupun melalui agen-agen mereka, baik yang dikalangan pemerintahan maupun para intelektual dan budayawan yang maniak kebudayaan barat.

Khatimah
Saat shaum Romadlon inilah puncak pahala kaum muslimin yang sedang jihad melawan orang-orang kafir. Saat inilah kita yang tak berjihad, mengkonsentrasikan dakwah melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKAN SANTRI BIASA

Sosok predator anak, pimpinan pesantren panti Asuhan di Tangerang ini tengah jadi sorotan media. Gimana nggak, figur ayah yang sejatinya pelindung dan pengayom anak asuh malah disalahgunakan untuk memaksa anak-anak santri mengikuti nafsu bejatnya. Ngeri! Dampaknya, masyarakat ada yang punya pikiran negatif dengan pendidikan di Pesantren. Mereka berpikir ulang untuk mengajak anaknya nyantri. Nggak deh. Entar jadi korban lagi. Nah lho! *# Jejak Para Pahlawan Santri* Pondok pesantren sebagai salah satu pilihan tempat menimba ilmu agama tak boleh dipandang sebelah mata. Meski kasus predator anak itu telah mencoreng nama baik pesantren, tapi bukan berarti semua pesantren sama kondisinya. Nggak gitu konsepnya. Itu hanya oknum aja. Karena dari dulu sejak jaman perjuangan kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu produsen para pahlawan nasional. Para santri pejuang telah meninggalkan jejak sejarah berjuang mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Mereka diantaranya: *1. KH Hasyim Asyari* Pen...

Tips Bercanda Syar'i

Buat yang gemar bercanda, penting untuk diketahui bahwa Bercanda ada batasan/aturannya. Larangan Bercanda dalam Islam  : 1.      Tidak berbohong Abu Hurairah RA menceritakan saat para sahabat berkumpul dalam majelis Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Wahai Rasulullah, apakah engkau jua bersenda gurau bersama kami?” maka Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam menjawab,”Tentu, hanya saja aku akan berkata benar” (HR. Ahmad) Rasulullah bersabda: “Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya.“ (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-‘Adab – 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III: 942 no.4175). Na´udzubillahi mindzalik. Bagi yang senang stand up comedy, suka menarik perhatian dengan bercanda, perlu banget perhatikan… apakah candaan...

Etika Pergaulan dalam Islam

Islam telah mengatur etika pergaulan remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah : 1. Menutup Aurat Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah. Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan aurat bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Pakaian yang di kenakan tidak boleh ketat sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh transparan atau tipis sehingga tembus pandang. 2. Menjauhi perbuatan zin...