Langsung ke konten utama

Ramadhan & Al Qur'an

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT, pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Shalawat dan taslim senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Banyak sekali kemuliaan Bulan Ramadhan. Salah satunya ialah Ramadhan merupakan Syahrul Qur’an yakni bulan diturunkannya Al- Qur’an. Sebagaimana firman Allah:

“Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil).” (QS. al-Baqarah : 185)

Al Qur’an adalah kitab suci yang berbeda dengan kitab-kitab suci sebelumnya. Letak perbedaannya adalah dari penjagaan yang Allah berikan terhadap keotentikan ayat-ayatnya yang berlaku hingga Hari Kiamat. Hal ini yang tidak ada pada kitab-kitab suci sebelumnya. Allah berfirman:

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”(QS. al-Hijr: 9).

Al Qur’an juga sekaligus mukjizat yang diberikan Allah Ta’ala kepada Rasulullah saw. Mukjizat ini pun berbeda dengan yang pernah diberikan kepada para nabi dan rasul sebelum Beliau. Kemukjizatan bisa dibuktikan dan disaksikan hingga Hari Kiamat, sedangkan mukjizat para nabi dan rasul sebelumnya lenyap bersama wafatnya para nabi dan rasul yang membawanya.

Setiap muslim adalah mereka yang mengimani sepenuhnya bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, bukan buatan manusia termasuk Muhammad saw. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Kitabullah ini adalah buatan manusia.

Kaum muslimin dianjurkan untuk membaca Al Qur’an dan mempelajarinya. Allah Ta’ala memberikan pahala bagi siapa saja yang membaca dan mempelajarinya.

“Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya.”(HR. Bukhori).

“Bacalah Al Qur’an karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi yang membacanya.”(HR. Muslim).

Akan tetapi yang paling pokok, Al Quran berfungsi sebagai petunjuk dalam kehidupan umat manusia. Dari sanalah pedoman hidup kaum muslimin berasal; dari mana berasal, untuk apa hidup dan ke mana akan kembali?

Dalam al-Qur’an juga terdapat ribuan hukum-hukum yang harus dijadikan standar perbuatan dan peraturan hidup kaum muslimin. Seorang muslim adalah yang tunduk kepada al-Quran. Dan meninggalkan sikap berpaling darinya. Firman Allah:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".  Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-2 Kami, maka kamu melupakannya, & begitu (pula) pd hari ini kamupun dilupakan".”(QS. Thoha: 124-126).

Akan tetapi ada kesalahan yang terjadi saat ini. Saat berinteraksi dengan al-Qur’an, sebagian umat justru menafsirkan al-Qur’an agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi. Dengan cara seperti ini al-Qur’an bukan lagi menjadi subyek perubahan, melainkan obyek yang harus diubah. Sehingga kita mendapati sebagian orang berusaha mengubah dan mengakali hukum-hukum bahkan ayat-ayat dalam al-Qur’an; mengubah hukum waris, menghalalkan riba dengan dalih tidak berlipat ganda, menolak kewajiban jilbab dan kerudung bagi muslimah, menolak hukum pidananya, hingga menghalalkan gay dan lesbian.

Cara seperti inilah yang keliru. Alih-alih tunduk kepada al-Qur’an, mereka justru menundukkan al-Qur’an kepada hawa nafsu mereka sendiri. Padahal Allah telah memberi peringatan:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.”(QS. al-Maidah: 49).

Di tengah maraknya perlombaan membaca al-Qur’an, kaum muslimin seharusnya lebih fokus dan memprioritaskan mengkaji al-Qur’an dan berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Karena memang untuk itulah al-Qur’an diturunkan. Bukan sekedar bacaan ataupun hiasan dinding di rumah-rumah kaum muslimin. Tetapi al-Qur’an punya peran yang lebih mulia, yakni sebagai undang-undang dalam kehidupan, karena memang ia menjawab semua permasalahan umat manusia. Wallahua'lam.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKAN SANTRI BIASA

Sosok predator anak, pimpinan pesantren panti Asuhan di Tangerang ini tengah jadi sorotan media. Gimana nggak, figur ayah yang sejatinya pelindung dan pengayom anak asuh malah disalahgunakan untuk memaksa anak-anak santri mengikuti nafsu bejatnya. Ngeri! Dampaknya, masyarakat ada yang punya pikiran negatif dengan pendidikan di Pesantren. Mereka berpikir ulang untuk mengajak anaknya nyantri. Nggak deh. Entar jadi korban lagi. Nah lho! *# Jejak Para Pahlawan Santri* Pondok pesantren sebagai salah satu pilihan tempat menimba ilmu agama tak boleh dipandang sebelah mata. Meski kasus predator anak itu telah mencoreng nama baik pesantren, tapi bukan berarti semua pesantren sama kondisinya. Nggak gitu konsepnya. Itu hanya oknum aja. Karena dari dulu sejak jaman perjuangan kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu produsen para pahlawan nasional. Para santri pejuang telah meninggalkan jejak sejarah berjuang mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Mereka diantaranya: *1. KH Hasyim Asyari* Pen...

Tips Bercanda Syar'i

Buat yang gemar bercanda, penting untuk diketahui bahwa Bercanda ada batasan/aturannya. Larangan Bercanda dalam Islam  : 1.      Tidak berbohong Abu Hurairah RA menceritakan saat para sahabat berkumpul dalam majelis Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Wahai Rasulullah, apakah engkau jua bersenda gurau bersama kami?” maka Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam menjawab,”Tentu, hanya saja aku akan berkata benar” (HR. Ahmad) Rasulullah bersabda: “Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya.“ (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-‘Adab – 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III: 942 no.4175). Na´udzubillahi mindzalik. Bagi yang senang stand up comedy, suka menarik perhatian dengan bercanda, perlu banget perhatikan… apakah candaan...

Etika Pergaulan dalam Islam

Islam telah mengatur etika pergaulan remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah : 1. Menutup Aurat Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah. Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan aurat bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Pakaian yang di kenakan tidak boleh ketat sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh transparan atau tipis sehingga tembus pandang. 2. Menjauhi perbuatan zin...