Langsung ke konten utama

Mengokohkan Perjuangan Pasca Ramadhan

Layaknya ujian nasional, bulan Ramadhan adalah bulan ujian buat kaum muslimin. Mereka akan ditempa selama lebih kurang 30 hari. Untuk apa? Tentu saja untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Derajat taqwa. Sudah barang pasti, setiap muslim menginginkan predikat taqwa selepas Ramadhan. Karena apalah artinya sebulan menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu jikalau tidak meraih derajat taqwa. Naudzubillah.

Namun bukan sembarang taqwa. Taqwa dalam artian melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kalau kita menghayati dan menganalisa makna taqwa yang dimaksud Al-Qur’an, maka jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan taqwa ialah menerapkan syariat Islam dan meninggalkan sistem kufur yakni sistem yang bertentangan dengan Islam seperti Demokrasi, Kapitalisme dan Sosialisme.

Ramadhan tahun ini, semestinya menempa kita untuk terus berjuang dalam mewujudkan taqwa itu, bukan hanya dengan berpuasa. Tetapi juga dengan memperjuangkan syariat-Nya agar dapat diterapkan dalam kehidupan baik kehidupan individu, masyarakat, maupun dalam lingkup negara dan pemerintahan.

Kewajiban berpuasa pada surah al-Baqarah[2]:183, memiliki hukum yang sama dengan kewajiban melaksanakan qishosh pada surah yang sama pada 5 ayat sebelumnya yakni 178. Dimulai dengan seruan yang sama: kutiba yang artinya diwajibkan. Dua ayat ini menunjukkan hukum yang sama dalam hal pelaksanaan, yakni Fardhu. Juga dalam hal tujuan, kedua ayat tersebut memiliki tujuan yang sama: Laallakumtattaqun, yakni agar kalian bertaqwa.

Hanya saja, puasa dilakukan dalam rangka ketaqwaan individu, artinya dapat dilaksanakan tanpa Negara. Tetapi hukuman qishosh tidak bisa dilakukan oleh individu bahkan jamaah sekalipun. Karena qishosh adalah syariah yang dilakukan dalam rangka ketaqwaan Negara dan memang hak memberi sanksi dan hukum adalah hak Negara. Artinya syariah Islam tidak bisa terlaksana tanpa adanya Negara yang bertaqwa. Negara apa? Negara Islam al Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Maka, pelajaran berharga dari bulan Ramadhan ini ialah mengokohkan langkah dalam upaya penegakkan Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Kaidah syara’nya: Malaa Yatimmul Wajib Illabihi Fahuwa Wajib. Suatu kewajiban tidak sempurna karena sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib. Syariah Islam yang mulia tidak bisa diterapkan kecuali dengan Khilafah, maka Khilafah menjadi wajib. Sehingga bergabung dengan kelompok yang memperjuangkan Syariah dan Khilafah menjadi wajib juga. Semua ini dalam rangka kita mengokohkan perjuangan Islam pasca Ramadhan. Semoga derajat Taqwa individu, masyarakat dan Negara mampu kita wujudkan. Amin.[] al azizy revolusi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Etika Pergaulan dalam Islam

Islam telah mengatur etika pergaulan remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah : 1. Menutup Aurat Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah. Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan aurat bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Pakaian yang di kenakan tidak boleh ketat sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh transparan atau tipis sehingga tembus pandang. 2. Menjauhi perbuatan zin...

ANTARA KHILAFAH DAN HIZBUT TAHRIR

Khilafah itu bukan milik Hizbut Tahrir saja, tapi milik umat Islam seluruhnya”. Ungkapan ini benar sekali. Khilafah memang milik umat Islam, bukan milik suatu golongan saja. Namun tak dapat dipungkiri saat ini, apabila kita mendengar kata Khilafah, maka orang akan mengaitkannya dengan Hizbut Tahrir. Atau jika orang bercerita tentang Hizbut Tahrir, maka Khilafah pun jadi salah satu topiknya. Dengan kata lain, seolah-olah Khilafah hanyalah milik Hizbut Tahrir. Padahal sesungguhnya, Khilafah itu bukanlah milik Hizbut Tahrir saja. Meskipun memang pada kenyataannya, gerakan Islam yang sangat konsisten dalam memperjuangkan Khilafah hanyalah Hizbut Tahrir, namun bukan berarti Khilafah adalah milik Hizbut Tahrir, sehingga kebanyakan orang mengidentikan Hizbut Tahrir dengan Khilafah. Perlu diingat bahwa Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik Islam, sedangkan Khilafah adalah sistem Pemerintahan Islam. Aktivitas Hizbut Tahrir adalah aktivitas partai sementara aktivitas Khilafah adalah akt...

THE SHARPEST SWORD

“Orang bodoh yang tidak menghargai masa lalu kemungkinan besar akan mengulanginya.” – Nico Robin, One Piece Pernah baca manga One Piece? Kalau pernah, pasti udah nggak asing lagi sama karakter Roronoa Zoro. Tokoh rekaan Eiichiro Oda yang satu ini digambarkan sebagai pendekar pedang yang juga kuat luar biasa dan terbiasa ngangkat barbel 10 ton. Wah wah! Nah, karena Zoro ini pendekar pedang, dan kekuatannya seperti kingkong, maka Oda harus membuat pedang yang gila-gilaan juga untuknya. Zoro menggunakan tiga pedang, yang disebut Santoryu. Tiga pedang utamanya adalah Wado Ichimonji, Sandai Kitetsu, dan Shusui (kemudian digantikan oleh Enma). Dan pedang legendaris persembahan Oda untuk Zoro ini adalah katana yang bisa memotong besi. Nggak cuman Zoro,  mungkin ada juga yang ngefans dengan Kenshin Himura (Rurouni Kenshin). Mantan pembunuh bayaran yang dikenal sebagai Hitokiri Battousai. Setelah bertobat, dia bersumpah untuk tidak membunuh lagi dan menggunakan Sakabatou (pedang bermata ter...