Langsung ke konten utama

Mendiagnosa Rohingya

Pendahuluan
Ibarat sebuah penyakit, derita muslim Rohingya perlu didiagnosa. Kesalahan mendiagnosa penyakit akan berakibat kesalahan mengobati. Misalnya seseorang yang sedang sakit kepala, diagnosa atas penyebabnya adalah penting dilakukan. Jika tidak, mungkin saja diberi obat sakit kepala saja. Padahal penyebabnya adalah sakit gigi. Maka obatnya haruslah obat sakit gigi.

Dari contoh di atas, kita mesti memahami mana penyebab dan mana akibat. Kita harus bisa membedakan mana akar masalah, mana masalah cabang. Ini penting untuk menentukan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Yakni untuk memberikan solusinya.

Dalam kasus Rohingya pun begitu. Jika salah mendiagnosa masalah di sana, maka bisa dipastikan salah memberi solusi. Malah, terkadang justru menambah masalah.

Misalkan ada yang memberikan bantuan makanan, karena memang kekurangan makanan. Ada juga yang membawakan obat-obatan, karena memang banyak yang terluka.

Pertanyaanya, apakah masalah selesai? Tentu TIDAK.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua donatur dan relawan, semua obat-obatan dan makanan itu tidaklah menyelesaikan masalah. Tapi in syaa Allah ada pahalanya dan Allah pasti membalas semua amal perbuatan mereka.

Diagnosa Rohingya
Jika kita mencermati tragedi Rohingya, maka akan kita dapati bahwa kelaparan, luka-luka, hilangnya tempat tinggal dan lain sebagainya bukanlah akar masalah. Semuanya memang masalah, tapi hanya masalah cabang. Itu semua hanyalah akibat. Menyelesaikan masalah cabang bukan solusi yang tepat untuk Rohingya.

Masalah yang sebenarnya adalah karena tindakan zalim penguasa Myanmar. Kezaliman para biksu Budha dan militer Myanmar tidak akan bisa hilang dengan makanan dan obat-obatan.

Solusi jitu untuk Rohingya adalah dengan bantuan militer. Senjata lawan senjata. Itu jika memang serius berniat menyelesaikan masalah di sana.

Hanya saja, kita punya masalah lain; Nasionalisme. Mungkin nanti di lain kesempatan kita bahas mendalam tentang Nasionalisme ini. Intinya dalam masalah ini, Nasionalisme-lah penyebab mengapa penguasa negeri-negeri Muslim di dunia seolah diam tak berdaya melihat Rohingya, begitu juga terhadap Palestina, Suriah, Irak, Pattani-Thailand, Uighur-Cina, dan lainnya.

Penutup
Sebagai kesimpulan, sekat-sekat Nasionalisme inilah yang harus dilerai dan dimusnahkan. Ikatan Akidah dikuatkan dan umat Islam dipersatukan. Dengan begitu, penguasa Muslim akan mengerahkan militer dan segenap kekuatan untuk melawan kezaliman dan membebaskan kaum muslim dari penjajahan. Wallahua'lam.[]

Al Azizy Revolusi
Mantan Pelajar HTI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKAN SANTRI BIASA

Sosok predator anak, pimpinan pesantren panti Asuhan di Tangerang ini tengah jadi sorotan media. Gimana nggak, figur ayah yang sejatinya pelindung dan pengayom anak asuh malah disalahgunakan untuk memaksa anak-anak santri mengikuti nafsu bejatnya. Ngeri! Dampaknya, masyarakat ada yang punya pikiran negatif dengan pendidikan di Pesantren. Mereka berpikir ulang untuk mengajak anaknya nyantri. Nggak deh. Entar jadi korban lagi. Nah lho! *# Jejak Para Pahlawan Santri* Pondok pesantren sebagai salah satu pilihan tempat menimba ilmu agama tak boleh dipandang sebelah mata. Meski kasus predator anak itu telah mencoreng nama baik pesantren, tapi bukan berarti semua pesantren sama kondisinya. Nggak gitu konsepnya. Itu hanya oknum aja. Karena dari dulu sejak jaman perjuangan kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu produsen para pahlawan nasional. Para santri pejuang telah meninggalkan jejak sejarah berjuang mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Mereka diantaranya: *1. KH Hasyim Asyari* Pen...

Tips Bercanda Syar'i

Buat yang gemar bercanda, penting untuk diketahui bahwa Bercanda ada batasan/aturannya. Larangan Bercanda dalam Islam  : 1.      Tidak berbohong Abu Hurairah RA menceritakan saat para sahabat berkumpul dalam majelis Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Wahai Rasulullah, apakah engkau jua bersenda gurau bersama kami?” maka Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam menjawab,”Tentu, hanya saja aku akan berkata benar” (HR. Ahmad) Rasulullah bersabda: “Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya.“ (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-‘Adab – 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III: 942 no.4175). Na´udzubillahi mindzalik. Bagi yang senang stand up comedy, suka menarik perhatian dengan bercanda, perlu banget perhatikan… apakah candaan...

Etika Pergaulan dalam Islam

Islam telah mengatur etika pergaulan remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah : 1. Menutup Aurat Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah. Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan aurat bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Pakaian yang di kenakan tidak boleh ketat sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh transparan atau tipis sehingga tembus pandang. 2. Menjauhi perbuatan zin...