Langsung ke konten utama

APATIS NO, KRITIS YES!

Peran pemuda dalam kebangkitan bangsa nggak bisa dipandang sebelah mata. Banyak ulama sudah mengingatkan akan hal ini.

Syaikh Ibn Jibrin bilang, "Pemuda adalah harapan bangsa. Jika pemudanya rusak, maka rusaklah seluruh masyarakat." Begitu juga dengan Imam Al-Ghazali, "Pemuda adalah cerminan masa depan. Jika pemudanya baik, maka masa depan akan cerah."

Itu artinya, generasi muda muslim saat ini secara alaminya akan menjadi bagian dari pemegang estafet kepemimpinan umat di masa depan.

Kalo pemudanya peduli dan optimis menatap masa depan, insya Allah kebaikan akan diraih negeri ini. Sebaliknya, kalo pemudanya cenderung individualis bin egosentris, ngeri juga ngebayangin wajah Ibu pertiwi di masa depan.

Dan yang jadi pertanyaan, apa kabar pemuda muslim saat ini? Masihkah ada harapan kebangkitan Islam kembali terwujud di masa depan sebagaimana dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya? Atau sebaliknya akan kehilangan predikat umat terbaik alias terpuruk tak berdaya? Hmm... gimana ya jawabnya?

*# Apatis? NO!*

Pemuda yang bakal melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan suatu bangsa idealnya punya sikap kritis dan peduli dengan keadaan negeri ini. Nggak cuman mikirin kebaikan dirinya sendiri, tapi juga turut berkontribusi untuk kebangkitan umat.

Sayangnya, sosial media yang banyak digandrungi remaja cenderung membentuk karakter pemuda individualis bin apatis. Yang dipikirin cuman dirinya sendiri, self reward, ogah ribet ngurusin negeri ini.

Emang sih, sudah ada pemerintah yang berwenang ngurusin negeri kita tercinta. Tapi bukan berarti kita tutup mata dengan berbagai masalah yang tersaji di depan mata. Bukan apa-apa. Lantaran nanti kita-kita juga yang kena getahnya.

Rasulullah saw mengingatkan kita dalam sebuah hadits dari An Nu'man bin Basyir rahiyallahu'anhuma, "Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita. Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu." (HR. Bukhari no. 2493).

Ibnu Hajar memberikan beberapa faedah terkait hadits di atas. Diantaranya : hadits tersebut berisi pelajaran bahwa hukuman bisa jadi menimpa suatu kaum dikarenakan meninggalkan ingkarul mungkar atau merubah kemungkaran. Dan hendaknya saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau bahaya yang diperbuat oleh saudara kita seperti orang yang berada di atas perahu melihat orang bawah ingin melubangi kapal supaya bisa mendapat air. (Lihat Fathul Bari, 5: 296).

Makanya jauh-jauh deh dengan sikap apatis yang diartikan sikap acuh tak acuh, tidak peduli, atau masa bodoh terhadap segala hal yang terjadi di sekitar. Kalo sikap ini dipelihara para pemuda, niscaya estafet kepemimpinan umat gak ada yang nerusin. Yang tua makin bangka, yang muda tak berdaya. Kondisi umat pun kita merana. Ih jangan sampai dong!

*# Kritis? Yes!*

Punya sikap kritis, bukan berarti kita ngerecokin urusan orang lain lho. Lebih pas kalo sikap kritis dimaknai sebagai wujud kepedulian dan ekspresi cinta. Karena itu, sikap kritis juga berfungsi sebagai kontrol. Baik kontrol sosial maupun kontrol secara personal.

Adanya sikap kritis, membantu kita menjaga masyarakat agar tetep beradab. Kalo nggak ada yang kritis terhadap gaya hidup remaja yang hedonis, alamat remaja makin terancam masa depannya. Kalo nggak ada yang kritis saat ngeliat retsleting celana kita yang terbuka, kita bisa tengsin berat. Itu berarti, sepedas apapun kritikan yang disampaikan, akan ngasih kebaikan untuk kita semua. Pastinya!

Untuk ngasih nilai lebih pada sikap kritis kita, ekspresikan bukan hanya untuk kepentingan sendiri. Tapi untuk kepentingan bersama. Bukan hanya kritis ama temen sekolah atau sikap anggota keluarga di rumah, Kritisi juga situasi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, atau budaya yang mengancam kehidupan umat. Nggak berat kok. Hanya perlu sedikit kepedulan kita aja.

Tapi sebagai pemuda muslim yang baik dan benar, tentu sikap kritis kita bukan asal bunyi dong. Biar orang laen enak dengan sikap kritis kita, boleh juga pake aturan maen sikap kritis yang etis. Ini beberapa tips dari kita:

Pertama, bukan untuk menjatuhkan apalagi melecehkan. Kita nggak maen vonis bersalah pada orang lain. Soalnya, boleh jadi kesalahan orang lain di mata kita, ternyata itulah hal terbaik yang bisa dia perbuat seperti yang dia pahami. Cari tahu dulu alasan dia berbuat itu sebelum ngasih masukan. Ajukan pertanyaan "ada apa?", bukan "kenapa?". Biar orang nggak merasa disudutkan. Ok?

Kedua, kritisi cara berpikirnya bukan orangnya. Sikap kritis udah sepantasnya jadi ajang persahabatan, bukan permusuhan. Kalo beda pendapat, teteplah berdiskusi dan beradu argumen dalam ruang adu pendapat. Jangan bawa-bawa kekurangan fisik lawan bicara atau masalah pribadi dia ke arena diskusi. Nggak fair tuh!

Ketiga, sodorkan bukti. Jangan sampai sikap kritis kita mencoreng nama baik atau dianggap provokator. Entar kena somasi repot deh. Kalo mengkritisi kebijakan pemerintah yang bikin rakyat sengsara dunia akherat misalnya, sertai bukti yang kuat dan akurat. Jangan cuman bermodalkan megaphone, poster, atau spanduk aja saat demonstrasi. Kalo ada bukti, cukup sedikit bicara tapi mengena. Cocok!

Keempat, kritisi dengan solusi. Terutama kalo menyangkut kepentingan umum, siapkan solusi yang ngasih kebaikan untuk semua. Bukan solusi yang malah nambah masalah baru. Seperti dalam masalah HIV/AIDS. Kondomisasi atau pembagian jarum suntik steril sering jadi andalan pemerintah dan LSM untuk mengerem penyebaran wabah HIV. Padahal solusi itu malah kian melestarikan budaya seks bebas dan penggunaan narkoba. Bagusnya, negara pake aturan Islam yang sempurna untuk ngatur rakyatnya. Karena hanya ketegasan aturan Islam yang bisa mengeliminasi budaya seks bebas dan peredaran narkoba dari masyarakat. Itu baru solusi mak nyus!

Biar nggak asal kritis, pake kacamata Islam untuk ngeliat kondisi yang layak dikritisi. Di sini pentingnya kita mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji gitu lho. Dengan ikut ngaji, bisa menumbuhkan sikap kritis, penyampaiannya lebih etis, nggak pake anarkis, dan solusi yang ditawarkan juga ideologis. Mantabs! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-262-apatis-no-kritis-yes/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Maulid Rasulullah

Peringatan Maulid Rasulullah sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan. Karena aturan-aturan Islam sebagaimana aturan-aturan laintidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya. Rasulullah tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara polit...

Petuah Akhir Zaman

RIT - BENARKAH KALENDER ISLAM TIDAK SAMPAI 1500 ? PADAHAL SEKARANG SUDAH 1438 H. INI KAJIANNYA Tidak terasa kita hidup dipenghujung Jaman. Rasul SAW Berkata : Jaman itu dibagi 5 1. Jaman Nubuwwah (Jaman kenabian diawali dr Jaman Nabi Adam AS sampai Baginda Nabi Muhammad SAW) 2. Jaman Khilafah l (dipimpin sahabat -sahabat Nabi Abu Bakar Umar, Utsman dan Ali ra). 3. Jaman Al-mulk kerajaan (berakhir runtuhnya Dinasti Utsmani diturki kalau diindonesia Majapahit, Sriwijaya, Galu dsbnya). 4. Jaman Jababiro (Jaman kebebasan maksiat dimana-mana dan kita hidup di Jaman ini). Fitnah2 bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin (era fitnah terbesar akan terjadi saat Dajjal muncul), Org2 yg tdk cakap/dzolim menjadi penguasa (pemimpin), jumlah ummat Islam banyak ttp bagaikan buih diatas laut (sedikit yg berjihad untuk membela Islam)... --> Jaman ini sdh terjadi dan sdg kita jalani... Astaghfirullah..... 5. Jaman Khilafah ll (Jaman yg mana suasana seperi pada Jaman Rosulul...

Kemuliaan Keberkahan Keutamaan Lailatul Qadar

RIT - Kemuliaan Keberkahan Keutamaan Lailatul Qadar Hikmah,  keutamaan dan kemuliaan malam lailatul qadar di bulan Ramadhan tercantum di dalam Al-Qur’an surat Al-Qadar yang artinya : ” Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan ”. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang dimuliakan Alloh SWT, yang nilainya lebih baik daripada 1.000 bulan atau 30.000 kali malam biasa. Keberkahan lailatul qadar adalah merupakan bagian dari hikmah keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri. Dimana salah satu malam yang istimewa diselimuti keberkahan hanya terdapat pada salah satu malam di bulan Ramadhan. Betapa agungnya Ramadhan sehingga tidak ada selainnya yang mendapatkan malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan. Keistimewaan malam Lailatul Qadar jika dibandingkan dengan malam lainnya tentunya tidaklah sama. Disamping hadir di saat malam bulan ramadhan yaitu bulan penuh rahmat dan ampunan. Malam Lailatul Qadar juga memiliki keistimewaan sudah tertulis di dalam Al Qur’an ataupun dalam ha...