Langsung ke konten utama

Postingan

Ada Apa dengan Tahun Baru?

          Hai sobat, malam tahun baru ini mau ke mana? Belum punya rencana? Gini deh, kalo kamu udah punya rencana, atau belum punya rencana tapi pengen ngerayain tahun baru, sebaiknya kamu baca tulisan ini dulu deh. Biar temen-temen ngerti gimana sejarah en hukumnya ngerayain tahun baru dalam Islam. Tentu aja yang saya maksud tahun baru masehi ya. Tahun baru Islam sendiri sih udah lewat. Terus apa untungnya kita tahu sejarah en hukumnya? Ya, tentu biar bisa nentuin sikap dong. Seorang muslim itu ketika hendak berbuat, wajib tahu dulu hukum perbuatannya itu. Supaya apa? Supaya nggak salah jalan, apalagi sampe terperosok ke jurang. Jangan sampe deh.           Tahu kan gimana suasana tahun baru? Ya seperti biasa, dilalui dengan hiruk-pikuk, hura-hura, pesta en kegiatan gaje (nggak jelas) lainnya. Kok gaje sih? Iya. Coba deh, kalo dipikir-pikir, perayaan tahun baru itu udahlah nggak manfaat, dekat dengan maksiat lagi. Sebut aja dari begad...

Renungan Maulid Rasulullah

Peringatan Maulid Rasulullah sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan. Karena aturan-aturan Islam sebagaimana aturan-aturan laintidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya. Rasulullah tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara polit...

Tips Bercanda Syar'i

Buat yang gemar bercanda, penting untuk diketahui bahwa Bercanda ada batasan/aturannya. Larangan Bercanda dalam Islam  : 1.      Tidak berbohong Abu Hurairah RA menceritakan saat para sahabat berkumpul dalam majelis Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, ”Wahai Rasulullah, apakah engkau jua bersenda gurau bersama kami?” maka Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam menjawab,”Tentu, hanya saja aku akan berkata benar” (HR. Ahmad) Rasulullah bersabda: “Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya.“ (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-‘Adab – 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III: 942 no.4175). Na´udzubillahi mindzalik. Bagi yang senang stand up comedy, suka menarik perhatian dengan bercanda, perlu banget perhatikan… apakah candaan...

Pemuda Pahlawan

Ibnu Abbas r.a. berkata: Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja. Kemudian Ibnu Abbas r.a. membaca firman Allah swt. dalam surat Al Anbiya ayat 60: Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (Tafsir Ibnu Katsir III, halaman 183). Idealnya, seorang pemuda harus memiliki semangat yang hebat. Mengingat fisik mereka yang masih kuat. Dalam sejarah, usia para pemuda Islam yang pertama mendapatkan pembinaan di Daarul Arqaam rata-rata sekitar 20 tahunan. Yang paling muda adalah Ali bin Abi Thalib, waktu itu usianya masih 8 tahun hampir sama dengan Az-Zubair bin Al Awwam. Kemudian dalam pembinaan Rasul itu masih ada Jafar bin Abi Thalib yang saat itu usianya 18 tahun, Usman bin Affan, usia 20 tahun, Umar bin Khaththab sekitar 26 tahun dan Abu Bakar A...

Mendiagnosa Rohingya

Pendahuluan Ibarat sebuah penyakit, derita muslim Rohingya perlu didiagnosa. Kesalahan mendiagnosa penyakit akan berakibat kesalahan mengobati. Misalnya seseorang yang sedang sakit kepala, diagnosa atas penyebabnya adalah penting dilakukan. Jika tidak, mungkin saja diberi obat sakit kepala saja. Padahal penyebabnya adalah sakit gigi. Maka obatnya haruslah obat sakit gigi. Dari contoh di atas, kita mesti memahami mana penyebab dan mana akibat. Kita harus bisa membedakan mana akar masalah, mana masalah cabang. Ini penting untuk menentukan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Yakni untuk memberikan solusinya. Dalam kasus Rohingya pun begitu. Jika salah mendiagnosa masalah di sana, maka bisa dipastikan salah memberi solusi. Malah, terkadang justru menambah masalah. Misalkan ada yang memberikan bantuan makanan, karena memang kekurangan makanan. Ada juga yang membawakan obat-obatan, karena memang banyak yang terluka. Pertanyaanya, apakah masalah selesai? Tentu TIDAK. Tan...

Kemerdekaan Baru Sebatas Jargon

Kemerdekaan sering ditafsirkan orang dengan terbebasnya manusia dari berbagai penindasan dan aturan yang mengungkungnya. Dengan kata lain, kemerdekaan adalah kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri tanpa ada tekanan maupun campur tangan pihak-pihak lain.  Orang merdeka adalah orang yang telah berdaulat sepenuhnya terhadap dirinya sendiri. Negara merdeka adalah negara yang memiliki kedaulatan untuk mengatur dirinya sendiri. Dalam literatur Islam, orang yang memiliki kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri disebut dengan tuan, sedangkan orang yang tidak memiliki kemerdekaan untuk mengatur dirinya sendiri disebut dengan budak. Bila dilihat berdasarkan teori konspirasi, istilah kemerdekaan sendiri adalah bagian dari desain politik kaum kafir untuk menghancurkan kesatuan dan kehidupan kaum Muslim. Kemunculan istilah ini berawal setelah umat manusia, terutama bangsa-bangsa Asia dan Afrika, mengalami penjajahan fisik bertahun-tahun lamanya. Penjajahan fisik telah memberikan kesadar...

Mengokohkan Perjuangan Pasca Ramadhan

Layaknya ujian nasional, bulan Ramadhan adalah bulan ujian buat kaum muslimin. Mereka akan ditempa selama lebih kurang 30 hari. Untuk apa? Tentu saja untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Derajat taqwa. Sudah barang pasti, setiap muslim menginginkan predikat taqwa selepas Ramadhan. Karena apalah artinya sebulan menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu jikalau tidak meraih derajat taqwa. Naudzubillah . Namun bukan sembarang taqwa. Taqwa dalam artian melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kalau kita menghayati dan menganalisa makna taqwa yang dimaksud Al-Qur’an, maka jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan taqwa ialah menerapkan syariat Islam dan meninggalkan sistem kufur yakni sistem yang bertentangan dengan Islam seperti Demokrasi, Kapitalisme dan Sosialisme. Ramadhan tahun ini, semestinya menempa kita untuk terus berjuang dalam mewujudkan taqwa itu, bukan hanya dengan berpuasa. Tetapi juga dengan memperjuangkan syariat-Nya agar dapat diterapkan dalam k...